Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2008

Imam Malik

Dikutip dari buku “Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah”

Karya Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Namanya Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashbahy Al-Himyari yang biasa dipanggil Abu Abdullah, gelarnya Imam Dar Al-Hijrah. Dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Seseorang yang tinggi tegap hidunya mancung, matanya biru, dan jenggotnya panjang. Baik perangainya, cerdas, cepat hafal dan faham A-Qur’an sejak masa kecilnya. Merupakan salah satu imam empat dan pemilik madzab yang banyak diikuti.

Dia berkata: “Saya tidak belajar kecuali unuk diri sendiri, dan saya tidak belajar agar supaya orang-orang membutuhkan saya.” Imam Syafe’i berkata: “Kalau tidak ada Imam Malik dan Ibnu ‘Uyainah, maka hilangnya ilmu dari negri Hijaz.” Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ilmu fikih berhulu pada imam Malik, dan pendapatnya secara umum baik.” Madzhabnya terkenal dan tersebar di Maroko, Andalusia, Yaman, Sudan, Bashrah, Baghdad, Kufah, sebagian, Syam Mesir dan Khurasan. Diantara guru-gurunya adalah Nafi’ Maula ibnu Umar, Ibnu Syibab Az-Zuhriy dan Hisyam bin Urwah. Sedang murid-muridnya adalah Yahya Al-Qhatan, Abdullah bin Mubarak, Waqi’ bin Jahrah, dan Syafi’i. Teman-temannya antara lain Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah An-Nu’man, Abu Yusuf, dan Al-Laits bin Saad. Dia mempunyai catatan surat, menyurat dengan Al-Laits bin Saad yang terkenal alim. Dia dan Abu Yusuf keduanya bergelar ‘Asy-Syaikhani’ dan merupakan orang kedua setelah imam Malik dalam madzhab Malikiyah. Abu Yusuf berkata: “Demi Allah saya tidak mendekati raja dari para raja sampai mendekat kepada Imam Malik, kecuali Allah mencabut kewajibannnya dari dadaku.”

Pernah dipukuli dan disiksa sampai mengelupas kulit tangannya, karena dia berpendapat bahwa tidak jatuh talaknya orang yang dipaksa. Dan menolak permohonan Abu Ja’far Mansyur agar orang-orang yang membawa kitab Al-Muwatha, yang merupakan kitab jami dalam ilmu fikih dan hukum. Sufyan bin Uyainah berkata: “Imam Malik adalah pakar ilmu negri Hijaz, dan hujah pada zamannya.” Membahas kalimat “Hasbunallah wani’mal wakil”, ketika ditanya tentang masalah ini, dia menjawab: “Saya mendengar Allah Swt berfirman setelah ayat ini, dia menjawab: “Saya mendengar Allah Swt berfirman setelah ayat ini, “Fanqalabu bi ni’ matin minallahi wa fadhal.” Dia tidak pernah naik kendaraan ke kota Madinah walupun sudah lemah dan lanjut usia, karena menghormati negeri dimana Rasulullah Saw berpijak. Dia juga menghormati para khalifah tapi tidak mengharuskannya, pernah menerima hadiah dari Khalifah Al-Mahdi setelah hampir menolaknya. Dia berkata: “Ilmu adalah hutang, maka lihatlah dari siapa kalian mengambilnya.” Dia berkata: “Saya tidak berfatwa kecuali disaksikan oleh tujuh puluh orang, walupun mereka melarang saya, saya tidak berhenti.” Diriwayatkan dari Abu Huraiah ra bahwasannya Nabi Saw bersabda: “Dikhawatirkan orang akan memukuli hati unta untuk mencari ilmu, dan tidak menemukan seorangpun yang pandai di negeri Madinah.” Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Uyainah bahwa dia ditanya: “Siapakah pakar dari Madinah?” ,dia menjawab : “Dialah Malik bin Anas.” (H.R Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan, dan berkata hasan).

Seseorang datang meminta fatwa dalam suatu masalah, maka Imam Malik berkata : “Saya tidak mengetahuinya…” Orang itu berkata: “Saya telah mendatangi tokoh-tokoh semuanya memerintahkan untuk menanyakan hal ini kepadamu, bagaimana saya memberi tahu kepada keluargaku?” Imam berkata kepadanya: “Katakanlah kepada mereka, saya telah bertanya kepada Malik, dan dia menjawab: “Saya tidak mengetahuinya…” Harun Al-Rasyid mengutus agar dia datang mermberi ilmu, kemudian Imam Marik berkata: “Ilmu itu didatangi.” Maka Harun Al-Rasyid datang menemui di rumahnya dan bersandar pada dinding,” Malik berkata: “Termasuk penghormatan terhadap Rasulullah jika kita menghormati ilmu”, kemudian Harun menghadap Imam Malik dan diberi ilmu.

Karyanya antara lain Al-Muwatha, Risalah fi al-Qadr, Al-Sir, dan Risalah fi Al-Aqidhiyah. Karya Jalaluddin As-Suyuthi kitab Tazyinu Al-Mamalik bimanaqibi Imam Malik, dan karya Muhammad bin Zahrah kitab Malik bin Anas: Hayatuhu-‘Ushruhu. Wafat di Madinah tahun 179 H

Sabtu, 09 Agustus 2008

Fatimah Az-Zahra

Disadur dari buku
Tokoh Tokoh Besar Islam
Syaikh Muhammad sa’id Mursi
---------------------------


Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin Abu Muthalib. Ia berasal dari keturunan bani Hasyim dan bermargakan Qurays, lahir lima tahun sebelum masa diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia merupakan putri termuda diantara putri putri nabi lainnya. Ia menikah dengan Ali Ra, pada usia yang ke 18 tahun,
merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kaltsum, dan Zaenab.

Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut , begitu pula Ali yang berada dibelakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka bekatalah Nabi ” ya Allah ! mereka ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala kotoran dan bersihkanlah (secikanlah) sebersih bersihnya. ”

Miswar bin Mukharamah berkata : aku mendengar Rasulullah saw berkata diatas mimbar ” Bahwasanya Hisyam bin al-Mughoyayaroh meminta izin kepadaku utuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin abi Thalib, namun aku tidak menyetujuinya, dan selanjutnyapun tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin abi Thalib bersedia menceraikan anak perempuanku dan menikah dengan anak anak mereka. Sesungguhnya anak perempuanku itu ( Fatimah Az-Zahra’ ) adalah bagian dariku)

Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nati adalah Khadijah binti Khuwailid , Fatimah binti Muhammad , istri Firaun yang bernama Asyiah binti Muzakhim dan Maryam binti Imran.”

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata ” aku bertemu dengan Fatimah. Ia berjalan sebagaimana layaknya nabi berjalan. Dan disaat ia bertemu dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi ” Selamat datang wahai putriku ”, lalu Nabi memintanya duduk disebelah kanan atau kirinya. Kemudian disaat Nabi mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah dia. Maka aku langsung berkata kepadanya ” kenapa kamu menangis ?” Namun, disaat Nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah , maka iapun tertawa riang, sekali lagi akupun berkata kepada Fatimah ” aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini.” maka aku berkata kepadanya tentang apa yang telah dikatakan nabi kepadanya . Berkatalah Fatimah ” Kamu jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti.” lalu aku menanyakan tentang rahasia itu, maka berkatalah Fatimah ” Nabi telah memberi isyarat kepadaku , dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca al-Qur’an secara langsung dihadapannya sekali dalam setahun . Namun pada tahun ini Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali ”, maka menangislah aku mendengar perkataan itu . sebab, itu tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat nabi berkata kepadaku ” relakanlah dirimu menjadi ratu wanita wanita penghuni surga , atau menjadi ratu wanita wanita muslim.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Anas Ra berkata, ” di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah ” sakitkah wahai ayah ?” maka berkalah Nabi kepadanya ” ayahmu tidak akan mengalami kesusahan setelah hari ini.” dan ketika Nabi wafat , berkatalah Fatimah ” Wahai ayah , Tuhan telah mengabulkan permohonanmu, surga firdaus adalah tempat kembalimu. Wahai ayah Jibrillah yang memperhatikanmu . dan disaat Nabi hendak dikuburkan , berkatalah Fatimah kepada Anas ” Relakanlah hatimu mencari tanah untuk pemakaman Raulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ”

Dari Aisyah Radhuyallahu Anha Umul Mu’minin (ibunya kaum beriman ) berkata ” aku tidak pernah melihat seorangpun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan , Keistiqomahannya dalam duduk, maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqomahannya Nabi. Ia disaat masuk rumah Nabi, Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannnya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah , ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi dan memberikan tempat duduknya kepada Nabi. (diriwayatkan oleh Turmudzi).

Ibnul Jauzi berkata ” bahwa Rasulullah mempunyai anak perempuan yang dimulyakan oleh Fatimah, dan mempunyai istri-istri yang lebih dahulu dariAisyah.”

Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah kematian Rasulullah shallallahu Alaihi Wasalam , ia meninggal dunia dalam usianya yang ke 29 tahun.

Jumat, 08 Agustus 2008

Al- Bukhari

Dikutip dari buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah

Karya Syaikh Muhammad Sa’id Mursi

Namanya Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Mughirah bin Bardizbah. Dan biasa dipanggil Abu Abdullah, terkenal dengan sebutan Bukhari karena dinisbatkan kepada negaranya Bukhara. Dilahirkan pada tahun 194 H. di Bukhara Khurasan. Ditinggal wafat ayahnya pada anak-anak, diwarisi harta banyak untuk mencari ilmu. Dia seorang tuna netra disaat masih kecil, ibunya mimpi bertemu nabi Ibrahim Alaihi salam. Memberi kabar bahwa Allah akan mengembalikan penglihatannya karena ketulusan do’a ibu, maka pada pagi harinya ia bisa melihat lagi. Pergi haji pada usia muda bersama ibu dan kakaknya Ahmad, dan mentap di Mekkah untuk mencari ilmu.

Dia juga seseorang yang kuat hafalannya secara detail, sehingga menjadi tempat kembali ketika ada perbedaan lafal hadits diantara ulama, telah menghafal Al-Qur’an sebelum usia enam belas tahun. Menginfakkan hartanya 500 dirham setiap bulan untuk mencari ilmu. Mencari ilmu di Mekkah, Madinah, Syam, Khurasan, Bashrah, Kufah, Baghdad dan Mesir. Mewajibkan pada dirinya: “Saya menuliskan Hadits dari seribu syaikh atau lebih, dari setiap Syaikh ribuan Hadits. Tidak ada bagiku Hadits kecuali ada sanadnya. Saya tidak meriwayatkan Hadits dari sahabat atau Tabiin, kecuali tahu tempat tinggal, kelahiran dan wafatnya. Dan saya tidak meriwayatkan Hadits dari Sahabat atau Tabiin, kecuali tahu asal-usul mereka. Saya hafal seratus ribu Hadits shahih dan dua ratus ribu Hadits yang tidak shahih.”

Dia menggumpulkan empat ratus pencari Hadits di Samarkand selama tujuh hari untuk mengkoreksi matan dan sanad Hadits su-maksimal mungkin.

Jumlah syaikhnya mencapai 1080 guru, diantaranya Ahmad bin Hambal, Abu Ashim An-Nabil, Muhammad bin Isa Ath-Thabai dan Ishaq bin Mansur. Murid-muridnya antara lain: Muslim, A-at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Al-Baghawi dan An-Nasafi. Berkumpul dalam majlisnya di Bagdad lebih dari dua puluh ribu orang siswa. Banyak menunaikan shalat dengan khusyuk, setiap hari pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an di waktu siang dan waktu sahur sepertiga malam.

Al-Marwazi berkata: “Tidak pernah saya melihat pemuda secerdas Bukhari.” Al-Khuza’I berkata: “Muhammad bin Ismail pakar umat.”

Qutaibah bin Said berkata: “Dia di zamannya sebagaimana umat di masa sahabat, kalau saja Muhammad bin Ismail hidup di masa sahabat maka dia adalah seorang tokoh sahabat.”

Imam Ahmad: “Saya tidak keluar dari Khurasan sebelum mengenyam ilmu dari Muhammad bin Ismail.”

Muhammad bin Ismail.” Muhammad bin Basyar berkata: “Penghafal di dunia ini ada empat: Abu Zur’ah di Ray, Muslim di Naisabur, Abdullah Ad-Darimi di Samarkand, dan Muhammad bin Ismail di Bukhara”.

Pernah diisukan bahwa dia menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk, namun tuduhan itu dibantah oleh kitabnya Khalqu Af’ali al-Ibad, dan berkata Al-Qur’an adalah kalamullah, dan disepakati oleh AhluSunnah. Tidak masuk dalam kehidupan para Sultan, dan ketika dipanggil oleh Gurbernur Bukhara Ahmad bin Khalid dia menolak.

Dia orang pertama yang menyusun Hadits Nabawi dengan metode yang ia pakai. Mengumpulkan enam ratus ribu Hadits dengan perawi tsiqat yang ditulis dalam kitab Shahih Bukhari selama enam belas tahun. Kitab Haditsnya paling tsiqat dari Kutub as-Sittah. Karya-karyanya antara lain: Al-Jami ash-Shahih, At-Tarrikh Kabir, Al-Adab al-Mufrad, Khalqu Af’aliad-Ibad. Dan pada usia kira-kira 62 tahun di wafat di Khartank Samarkand tahun 256 H.

Selasa, 05 Agustus 2008

Pahlawan kita


Dirgahayu INDONESIA KU







“TANAH air kita meminta korban. Dari di sinilah kita, siap sedia memberi korban yang sesuci-sucinya… sungguh, korban dengan ragamu sendiri adalah korban yang paling ringan… memang awan tebal dan hitam menggantung di atas kita. Akan tetapi percayalah di baliknya masih ada matahari yang bersembunyi… kapan hujan turun dan udara menjadi bersih karenanya?” (Ki Hadjar Dewantara).

Ki Hadjar Dewantara (R.M. Suwardi Suryaningrat) , tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia.
bersama Cipto Mangun Kusumo dan EFE Douwes Dekker — dijuluki ”Tiga Serangkai” — ia mendirikan Indische Partij, sebuah organisasi politik pertama di Indonesia yang dengan tegas menuntut Indonesia merdeka

Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.
Karena pendiriannya yang tegas menentang penjajahan Belanda, ia dibuang ke Bangka dan kemudian ke negeri Belanda (1915-1919).



Jenderal Sudirman (1916-1950)
di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru)

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.



Sutomo , “rawe-rawe rantas malang-malang tuntas” Dilahirkan di Surabaya 3 Oktober 1920 Meninggal di Mekkah 7 Oktober 1981. dikenal dengan sebutan Bung Tomo, terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda, 10 Nopember 1945.

Walaupun sampai saat ini Pemerintah belum memberikan gelar secara Resmi sebagai pahlawan Nasional. Tapi bagi kita seluruh bangsa tetap mengakui Bung tomo adalah Seorang Pahlawan kemerdekaan, pejuang yang tanpa Pamrih, bahkan sebelum meninggalpun beliau juga menolak untuk dimakamkan di taman makam pahlawan.

“Bagi ibu, yang lebih penting rakyat mengakui. Tidak perlu pengakuan pemerintah,” kata Sulistyowati, 82, Istri Bung Tomo dengan ikhlas.




Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945- 1966, menganut ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Persetan dengan bantuanmu.

Bung Karno yang berhasil menggelorakan semangat revolusi dan mengajak berdiri di atas kaki sendiri bagi bangsanya.





Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok



Rawe-rawe rantas malang-malang tuntas........ Merdeka ................................

Senin, 04 Agustus 2008

SHALAHUDDIN AL-AYUBI



Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Ayub bin Syadzi

Panggilannya adalah Abu Al-Muzhffar, dan julukannnya adalah Malik An-Naser (raja yang selalu menang)

Lahir pada tahun 532 H di Tikrit, salah satu perkampungan suku kurdi yang terletak di Irak bagian utara.

Bersama ayahnya Najmuddin dan pamannya Asaduddin Syirkuh dia pindah ke Ba’labak. Ayahnya kemudian diangkat sebagai gurbernur Ba’labak.

Dia hafal Al-Qur’an , belajar baca tulis, Hadits, fiqih, bahasa Arab, kedokteran dan nasab orang-orang Arab.

Sultan Nuruddin mempercayakan kepadanya untuk mempimpin kepolisian wilayah Damaskus. Shalahuddin Al-Ayubi membersihkan Damaskus dari para pencuri dan orang-orang yang jahat. Di Damaskus dia juga berhasil menstabilkan keadaan di seluruh penjuru Syam.

Dia dikirim oleh Nurrudin bersama pamannya Asaduddin Syirkuh komandan pasukan Syam agar dapat mempertahankan Mesir dan mengusir orang-orang Salib dari sana.

Shalahuddin berhasil mengusir orang-orang Salib dari Mesir, di sana pamannya diangkat sebagai menteri. Sepeninggal pamannya, dia diangkat sebagai penggantinya.

Setelah kematian Khalifah Al-Adhid, salah seorang khalifah dari Bani Fatimah di Mesir yang beraliran Syi’ah. Sebagai gantinya, dia mengumumkan madzhab Ahli Sunnah Wal Jama’ah sebagai madzhab resmi. Dia juga berhasil mengatasi berbagai kekacauan yang terjadi di dalam negeri.

Setelah kematian Nuruddin Mahmud, pada tahun 581 H Shalahuddin berhasil menyatukan Mesir, Syam dan Irak bagian utara serta Yaman berada di bawah kekuasaannya.

Jihad dan bagaimana cara membebaskan negeri-negeri dari kekuasaaan orang-orang salib selalu menjadi pusat perhatian. Dia memerintahkan para ulama dan khatib untuk selalu mengikuti tema jihad dan berkorban di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalahuddin Al-Ayubi melatih sendiri pasukannya dan dia membangun armada dan benteng-benteng bersama pasukannya.

Dia beralasan kenapa jarang sekali terlihat tertawa, “Bagaimana saya bisa tertawa sedangkan Masjid Al-Aqsha ditawan.”

Dengan sengaja dia mengadakan perjanjian damai dengan pasukan Salib untuk tidak saling menyerang. Keadaan seperti ini, ia pergunakan untuk mempersiapkan pasukan yang akan memasuki pertempuran yang sangat menentukan dengan mereka.

Dari Damaskus dia berangkat bersama pasukannya menuju ke suatu tempat yang namanya Ra’s Alma yang terletak di dekat desa Hiththin di wilayah Tobariah. Di tempat itu dia mengumumkan jihad secara umum, para mujahid berbondong-bondong dari seluruh penjuru Islam mendatangi panggilannya. Di tempat yang berbeda orang-orang Salib juga sedang bersiap-siap untuk berperang. Pada hari sabtu pagi tanggal 25 Rabi’ul Akhir 583 H, Shalahuddin berhasil menguasai sumber-sumber mata air yang terdapat pada wilayah tersebut. Cuaca hari itu sangat panas, pasukan Shalahuddin mengepung mereka dan membakar rerumputan yang kering yang ada di sekeliling mereka. Hal ini menyebabkan mereka kehausan. Pasukan Shalahuddin membunuh tiga puluh ribu pasukan Salib dan menawan mereka dalam jumlah yang sama. Shalahuddin memanggil penguasa Kark yang pernah mencela Nabi Muhammad Saw dan menyerang Al-Hijjaj serta rombongan-rombongan yang ingin berdagang. Setelah penguasa itu sampai, Shalahuddin kemudian membunuhnya.

Setelah pertempuran Hiththin, pasukan Shalahuddin pergi menuju ke arah Baitul Maqdis. Dia ingin membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman kaum salib yang telah menduduki 91 tahun. Melalui pertempuran yang sangat sengit, Shalahuddin berhasil membebaskan kota tersebut dari kekuasaan mereka. Pertempuran ini bertepatan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj.

Tidak lama berselang setelah pertempuran tersebut, Shalahuddin berhasil membebaskan Thabariyah, Uka, Shoeda, Ghaza, Nablis, Asqalan dan beberapa kota lain dari kekuasaan orang-orang salib.

Dia terkenal sangat toleransi dalam memperlakukan tawanan dan tahanan. Dia memberikan rasa aman kepada mereka yang mengingginkan. Dia menugaskan beberapa personil dari kepolisian supaya berkeliling di jalan raya untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap orang-orang Nasrani. Shalahuddin menyuruh bawahannya untuk mencari anak lelaki dari seorang perempuan Nasrani. Penyebabnya adalah karena perempuan tersebut menuduh pasukan Islam menculiknya. Setelah anak tersebut ditemukan, pasukannya mengantarkan anak itu kepada ibunya.

Shalahuddin sangat memperhatikan pembaharuan-pembaharuan di Mesir. Di masanya, pergerakan keilmuan itu sangat menonjol. Dia juga mengeluarkan manuskrip-manuskrip dari gudang dan mendirikan pasar di Qasr Al-Aini untuk menjual buku-buku serta mendirikan beberapa rumah sakit. Di atas daratan tinggi Muqatham, dia mendirikan sebuah benteng untuk pertahanan negara Mesir. Dia menetap di Mesir selama 24 tahun.

Walaupun segudang keperkasaan yang ia miliki, hati dan jiwanya tetap lembut. Dia adalah ahli politik dan perang, berwawasan luas lagi rendah hati.

Dia meninggalkan Mesir menuju Suria dan menetap di sana selama 19 tahun. Di Suria juga membangun sekolah dan rumah sakit.

Pada tahun 589 H, Shalahuddin Rahimahullah meninggal dunia di Damaskus dalam usia 58 tahun.

Minggu, 03 Agustus 2008

Bilal bin Rabah

Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi, biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-rasul.
Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya coklat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.
Ibunya adalah sahaya miliki Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh.
Bilal menjadi budak mereka, hingga akhirnya ai mendengar tentang Islam, lalu ia menemui Nabi dan mengikrarkan diri masuk Islam.
Umayyah bin Khalaf pernah menyiksanya dan membiarkannya di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Diperutnya diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali, lalu orang orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di atas perbukitan mekah. Saat diseret Bilal selalu mengucapkan kata “ahad- Ahad “ dan menolak mengucapkan kata kufur. Abu Bakar lalu memerdekannya. saat itu, Umar bin Al Khathab berujar, “ Abu Bakar adalah seorang pemimpin ( sayyid) kami, dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.

Rasulullah mempersaudarakannya dengan Abu Ruwaihah. Setelah hijrah, Azan disyariatkan. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ia adalah muadzdzin pertama dalam Islam, karena ia memiliki suara yang cukup bagus.

Ia pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di Bait Al-Mal. Ia tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah . Dalam perang Badar, ia melihat Umayyah bin Khalaf, orang yang dahulu pernah menyiksanya sewaktu di Mekah. Saat melihat Umayyah ia berujar “ Aku tidak akan selamat jika Umayyah selamat.” Kemudian ia meminta kepada beberapa orang pasukan kaum muslimin untuk membunuh Umayyah. Ketika itu Umayyah sedang meminta perlindungan kepada Abdurrahman bin Auf , karena diantara mereka terikat sebuah perjanjian lama. Bilal akhirnya berhasil membunuh Umayyah berkat pertolongan beberapa orang pasukan kaum muslimin dan Abdurrahman juga mengalami luka luka.
Pada saat pembebasan kota Makkah, Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengumandangkan Adzan di belakang Ka’bah. Adzan itu adalah Adzan yang pertama dikumandangkan di Makkah.
Tentang Bilal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakn “ Bilal adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari kalangan Habasyah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibn Asakir)
Suatu hari diwaktu subuh, Rasulullah mengatakan kepada Bilal, “ Hai Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya aku pernah mendengar suara jalanmu di hadapanku di syurga.” Bilal menjawab “ Aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu’ diwaktu malam dan siang, melainkan aku menunaikan shalat yang di wajibkan bagiku untuk mengerjakannya.”
Setelah Nabi meninggal, Bilal meminta izin kepada Abu bakar untuk meninggalkan Madinah dalam rangka untuk berjuang di jalan Allah. Abu Bakar menyarankan agar Bilal tetap di Madinah. Bilalpun menetap di Madinah sampai akhirnya dia bergabung bersama pasukan yang diutus untuk membebaskan wilayah Syam.
Ia menolak untuk menjadi muadzdzin bagi seseorang pasca wafatnya Rasulullah.
Ia meriwayatkan 44 hadits dari Nabi. Diantaranya, Rasulullah bersabda, “ Hendaklah kalian menunaikan shalat malam (tahajjud), karena shalat malam adalah tradisi (kebiasaan) orang orang shaleh sebelum kalian, dan sesungguhnya shalat malam adalah amalan yang dapat mendekatkan diri pada Allah, dapat mencegah dari perbuatan dosa, mengampuni dosa dosa kecil, dan menghilangkan penyakit dari badan.” (HR. At-Tirmidzi)

Ia meninggal di Damaskus tahun 20 H dan jasadnya dimakamkan di sana, ada riwayat yang menyebutkan bahwa jasadnya dimakamkan di Halb.


*) Dikutip dari Buku
Tokoh Tokoh Besar Islam
(Syaikh Muhammad Said Mursi)