Sabtu, 23 Agustus 2008
Betapa Memprihatinkan
melihat itu lelaki tersebut merasa iba kepadanya.
Dia kemudian bertanya , “Apa yang membuatmu menangis ?
apakah engkau tengah menderita sakit ?”
Tabiin itu menjawab “ Lebih dahsyat dari itu.! ”
Lelaki itu bertanya lagi, “ Apakah kamu mendengar salah seorang keluargamu
Meninggal dunia ? ”
Jawabnya sama.” Lebih dahsyat dari itu.! ”
Lelaki itu berkata lagi, ” Apakah kamu kehilangan harta ?.”
Jawabnya lagi. ” Lebih dahsyat dari itu.!”
Lelaki itu kemudian bertanya sambil terheran heran , ” Lalu apa yang lebih dahsyat dari itu semua ?”
Tabi’in itu berkata, ” Semalam aku tertidur dan aku lupa untuk bangun malam.”
Oh , betapa memprihatinkan kondisi kita,!
Kita terbiasa menangis hanya karena permasalahan yang sepele,
Teteskanlah air mata penyesalan atas waktu yang telah terbuang percuma atau karena berbagai kemaksiatan yang telah dilakukan.
-----------------------
Karya Amru khalid.
Sabtu, 02 Agustus 2008
Khadijah Wanita Teladan
Ayahnya bernama Khuwaylid, salh seorang tokoh suku Quaraisy yang sangat dihormati. Sedangkan ibunya adalah Fatimah, yang silsilahnya bersambung kepada silsilah para nabi yang penuh berkah.
Khadijah sempat mengikuti perkembangan terakhir zaman jahiiah. Pada saat itu dia memiliki kedudukan yang terhormat dikalangan kaumnya karena cantik dan berbudi pekerti mulia. Pada zaman jahiliyah dia dipanggil al- Thahirah
(wanita suci) karena kesucian jalan hidup dan perilakunya. Dia sangat dikenal dikalangan wanita kaum Quaraisy karena otaknya yang cemerlang , pendapatnya yang sangat bagus, dan hatinya yang bersih. Dia dipersunting pertama kali oleh Atiq bin Abid yang tidak lama kemudian meninggal dunia. Dia dinakahi lagi oleh seorang tokoh lain bernama Abu Halah dan sempat memiliki seorang putra bernama Hindun. Tak laa setelah itu suaminya meninggal dunia , Khadijah menjadi janda untuk yang kedua kalinya.
Khadijah menjadi incaran pemuda dan menjadi perhatian mereka. Hal itulah yang membuatnya memiliki kedudukan yang terhormat dimata mereka. Dia dikelilingi oleh budak laki laki dan wanita. Banyak pula yang mengharapkan uluran tangannya atau bahkan ingin menjadikannya sebagai istri . Banyak tokoh Quaraisy yang mengajukan diri untuk menjadi suaminya. Namun setiap permintaan ditolaknya tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.
Allah telah memberikan karunia kepada Khadijah untuk dinikahi Muhammad saw, setelah ia melihat kejujuran , kecerdasan, kecemerlangan pendapat , serta kemuliaan akhlaqnya.
Tatkala nabi saw mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quaraisy, di sampingnya berdiri dua orang wanita, yaitu Khadijah bin Khuwaylid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Dia adalah ummul Mu’minin, sebaik baik istri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya. Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi saw sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di gua Hira’. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi saw berdoa (memohon ) kepada Tuhannya. Setelah Jibril mengajarkan cara berwudlu dan shalat kepada Muhammad saw., ia kemudian mendatangi Khadijah dan mengajarkannya. Khadijah berwudlu seperti wudlu Nabi , melakukan shalat seperti shalatnya Nabi. Khadijah adalah sebaik baik wanita yang menolongnnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwa sarat dengan kebaikan. Rasullulah bersabda , “ Khidijah beriman kepadaku ketika orang orang ingkar , dia membenarkan aku ketika orang orang mundustakan, dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang orang tidak memberiku apa apa .“
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahNya, dan membantu beliau serta kaum muslimin denga jiwa , harta dan keluarga. Maka Allah SWT mebalas jasanya terhadap agama dan NabiNya, dengan sebaik baik balasan sebagaimana yang diceritakan Nabi saw, kepadanya pada masa hidupnya. Ketika Jibril A.S. dating kepada Nabi saw. Dia berkata “ Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan,” (HR.Bukhari dalam Fadhaail Ashhaabin Nabi saw.) Imam Adz-Dzahabi berkata : “ Kesalihannya telah disepakati.”
Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min dan orang pertama yang beriman kepada Allah sesudah Nabi saw.
Dia berdiri di belakang suami, nabinya hingga nafas terikhir, dan patut menjadi tauladan tertinggi bagi para wanita..betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi saw sejak awal kenabian.
Ar- Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung , lalu menyuruhnya membaca ayat –ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antar langit dan bumi . Dia tidak menoleh kekanan maupun kekiri sehingga Nabi saw melihatnya, lalu ia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi saw berada di jalan jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman pembantu maupun penolong. Nabi saw tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya .
Ketika melihatnya, Khadijah berkata, “ Dariman engkau wahai Abdal Qasim (Muhammad saw) ?, demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekah, kemudian kembali kepadaku .” maka Rasulullah saw menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata, “ Gembiralah dan teguhlah, wahai putera pamanku, Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini .”
Nabi saw tidak mendapatkan dirinya kecuali peneguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya..
Selama kehidupan Khadijah bersama suaminya yang mulia (Muhammad saw), ia menunjukkan sikap wanita yang sangat dihormati, mencintai dan bersikap jujur terhadap suaminya. Dia memperlakukan suaminya dengan sangat baik dan mengangkat harkatnya . Dengat sekuat tenaga ia membantu melaksanakan seluruh kewajibannya sebagai seorang istri dengan sangat setia.
Dalam pandangannnya, Nabi merupakan seorang yang luar biasa dan sangat istimewa,yang harus ia cintai dan dia sucikan, sebaliknya dalam pandangan Nabi, Khadijah merupakan seorang istri yang baik dan shalihah. Dialah orangnya yang pertama kali masuk Islam dan beriman kepadanya. Tidak henti hentinya Rasulullah mengakui kelebihan Khadijah, sehingga belum pernah terbetik pada hati beliau untuk menikahi wanita lain selama hidup berdampingan dengannya, Padahal usia Khadijah lebih tua daripada usia beliau.
Rasulullah menikahinya saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Sedangkan Khadijah waktu itu berusia empat puluh tahun . Rasulullah dikaruniai enam orang anak , yang terdiri atas dua orang putra yaitu :Al-Qasim dan Abdullah, serta empat orang putri yaitu : Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah Al-Zahra.
Demikian hendaknya wanita ideal. Itulah dia , Khadijah r.a., yang Allah telah mengirim salam kepadanya. Maka Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasulullah SAW seraya berkata kepadanya, “ Sampaikan kepada Khadijah salam dari TuhanNya . kemudian Rasulullah saw. Bersabda’” Wahai Khadijah , ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu” maka Khadijah r.a. menjawab. “ Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”
Sesungguhnya ia adalah kedududkan yang tidak diperoleh seorangpun diantara para sahabat yang terdahulu dan pertama masuk islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar dari pada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah saw.
Khadijah mendampingi Rasulullah selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.
Wanita yang mensyukuri rezeki suaminya
Dikutip dari ,
buku Hikayat wanita Muslimah
(Maimunah Hasan)
Suatu ketika, Fatimah, putri Rasulullah saw, mendapati suaminya Ali bin Abi Thalib, tidak mendapatkan rezeki seharian, akan tetapi ia tetap diam tidak marah, malahan menyambut suaminya dengan santun dan senyum yang ramah dan mesra.
Pada hari itu cuaca dikota mekah cerah sekali, namun tidak seperti suasana hati Fatimah binti Rasulullah saw, ia terlihat gelisah menanti sang suami tercinta Ali bin Abi Thalib yang belum juga pulang. padahal hari sudah menjelang Ashar.
Meski demikian , Fatimah tetap senantiasa mengharapkan kehadiran suaminya . Ia duduk dengan tenang di ruang tamu sendirian dengan pikiran penuh tanda tanya , belum lama berselang tiba tiba suaminya sudah berada didepan , tentu saja Fatimah langsung menyambutnya denga suka ria , karena suaminya seharian penuh berusaha mencari rezeki.
Dengan kepulangan sang suami yang terlambat dari biasanya , Fatimah berharap Ali mendapatkan uang yang lebih banyak , mengingat kebutuhan rumah tangga kali ini semakin membesar.
Setelah suasana agak tenang Fatimah berkata kepada suaminya tercinta :
“Kakanda ,mengapa hari ini pulang terlambat” kata Fatimah.
Sambil membenarkan tempat duduknya Ali berkata :
“ Maafkan dinda atas keterlambatan saya, karena banyak urusan yang saya kerjakan “ Jawab Ali.
Mendengar permintaan maaf dari suaminya , Fatimah bertambah senang hati.
“ Bagaimana dengan usaha kakanda ?, apakah berjalan dengan lancar?, Tanya Fatimah.
Denga wajah yang agak sendu, Ali menjawab dengan kata kata yang sopan dan santun :
“ Maafkan aku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun” ujar Ali
Mendapat jawaban yang menydihkan itu, sang istri, putri Nabi Muhammmad saw., ini tidak marah malah tersenyum terhadap suaminya tercinta,
“ Memang yang mengatur rezeki itu bukan orang orang yang datang kepasar, yang memiliki kuasa atas rezeki itu adalah Alllah Ta’ala “ Jelas
Setelah berdialog bersama istrinya dengan santai, beberapa menit kemudian Ali mendengar suara Azan dari masjid yang berada disebelah rumahnya . Alipun berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat jama’ah.
Sepulang dari masjid , di tengah jalan Ali bin abi Thalib, diberhentikan oleh seorang tua yang berjanggut dan bercambang putih sambil berkata : “ Assalamualikum wr.wb “
“Waalaikum salaam wr.wb” balas Ali
“Maaf anak muda betulkah engkau Ali. anak Abu Thalib” kata lelaki tua itu
“ ya memang saya Ali, ada apa bapak” ujar Ali dengan suara yang pelan.
Mendapat jawaban yang benar, nampaknya orang tua itu senang, lantas merogoh kantongnya seraya mengatakan bahwa ia berhutang pada Abu Thalib :
“ Dulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit . Aku belum sempat membayar ongkosnya , ayahmu sudah meninggal dunia. Jadi terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya” tegas lelaki tua itu dengan tersenyum lebar.
Karena diberi uang Ali sangat gembira sekali, mengingat beberapa jam yang lalu , dirinya bekerja dipasar belum juga mendapat uang. Kini tanpa susah payah , uang malah datang sendiri, Dengan gembira ali menerima haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar .
“ Terimakasih pak, mudah mudahan amal bapak diterima oleh Allah” jawab Ali
Setelah menyerahkan uang, orang tua minta pamit. “ Sebelumnya saya minta maaf nak, ketika ayahmu meninggal dunia, saya tidak tahu. Ya sudah Kalau begitu saya mohon pamit , Assalamualikum Wr.Wb” kata orang tua itu.
Dengan hati bersuka ria , Ali menuju kerumahnya. Ia akan menceritakan kepada istrinya tentang kejadian yag baru saja dialami, Setibanya dirumah, tanpa menungggu waktu lama lagi, istrinya yang sedang didalam kamar dipanggilnya, kemudian Ali bercerita panjang lebar tentang uang 30 dinar.
Tentu Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak disangka sangka, dengan hati riang gembira Ali kemudian bertanya kepada istrinya :
“ Bagaimana jika uang ini kita gunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga kita, ?”
papar Ali.
Fatimah setuju saja , mengingat kebutuhan rumah tangganya kali ini hanya tinggal beberapa hari saja.
“ Ya kakanda, saya setuju sekali, bagaimana kalau kakanda sendiri yang berangkat kepasar untuk membeli keperlua dapur kita,? Sedang saya akan mempersiapkan untuk memasak” kata Fatimah.
Dengan senang hati Ali menerima tawaran istrinya, dan Ali pun bergegas berangkat kepasar. Akan tetapi langkah Ali terhenti , karena sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang pengemis dengan menengadahkan tangan, sambil berkata dengan cukup keras “ Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, besedekahlah kepada saya” pinta pengemis tua itu.
Mendengar ucapan itu, hati Ali merasa iba, ia tidak tega, maka tanpa pikir untung ruginya, Ali memberikan seluruh uangnnya kepada pengemis itu.
“ Terimalah pemberian saya “ kata Ali
“ Terimakasih anak muda , mudah mudahan amalmu diterima oleh Allah.” Ucap pengemis
Setelah memberikan semua uangnnya , Ali kemudian tidak meneruskan perjalanannya kepasar. Ia langsung kembali kerumah . Fatimah yang dari tadi menungggu di rumah merasa heran, karena suaminya yang baru saja pulang dari pasar tidak membawa apa apa.
Kemudian Fatimah bertanya :
“ ada apa Kakanda, mengapa datang dari pasar tidak membawa barang barang kebutuhan rumah tangga kita.? Tanya Fatimah.
Mendapat pertanyaan demikian itu Ali sebenarnya agak malu, karena sudah dua kali istrinya dikecewakan, tetapi Ali merasa yakin bahwa tindakannya akan mendapat dukungan istrinya, apalagi Fatimah seorang istri yang sabar.
“ maafkan aku, uang 30 dinar tadi, saya kasihkan kepada pengemis tua yang juga seorang musafir. Ia perlu uang untuk melanjutkan perjalan pulang “. Jelas Ali.
Mendengar keterangan suaminya, Fatimah tidak marah, malah tersenyum lebar dan berkata “ Keputusan Kanda adalah keputusan yang baik. Seandainya saya mengalami demikian, saya akan berbuat seperti kakanda, Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya. Jika bersifat bakhil. Maka Alllah akan menutup pintu surga buat kita”. Papar Fatimah dengan gembira.

